Cerita tentag sebuah alkisah
090616, Palembang,
(untuk sahabat ira bandung)
By: rafiq Mohammad
Cerita singkat
Untuk sebuah pertemuan
Cerita sepi
Untuk sebuah perpisahan
Tak berkesan namun mengenang
Tak bersuara namun tersimpan
Cerita perih nan ringkih
Si Lelaki pejalan kaki
Tak beralas namun penuh alas
bertemankan perempuan yang beralas
Namun lekas melepas alas
Sebab ramai oleh lagu-lagu bimbang, yang
mengusik
Yang menurutku sumbang namun tenang
Cerita tentang sebuah alkisah
Disuatu lembah Ada rumah yang penuh cat
warna
Hitam putih acap kali menghiasi
Bergonta-ganti tak berhenti
Jelasnya rumah tua itu elok nan permai
Suatu ketika Anak muda perlahan bermain di
altar pekarangan
Karena rapuh, altar remuk, anak itu jatuh
Rumah berdeham, tanpa tertawa
Rumah tau banyak debu di lantai
Rumah tau anak itu berlonjak damai
Meski Rumah tau banyak kayu untuk menambal
lantai
Tapi Anak itu terus berputar, menari riang
Hingga Rumah tersenyum, membiarkan
Karena sayang, ia tumbangkan kedua kali
Sebab alasan itulah si tuan,
Kaki satu tak cukup untuk mendiamkan
Namun Kaki dua cukup untuk berkasih sayang
Meski melalui dendang sumbang
Jadilah anak muda terseyum dalam diam
Dia paham, bahwa bermain akan membuat ia
tumbang
Beruntunglah ia berucap, altar berlobang
Kalaulah jadi ia akan jadi penyanyi sumbang
Meski begitu rumah akan lelap dalam sepi
dan diam
Karena
tuan hanya lalulalang
Kini datang namun akan hilang
Seperti cerita tentang rumah dan altar yang
berlobang
Rumah adalah kenang dan tuan si pendatang
Meski jauh oleh jarak pandang
Tapi harap si tuan selalu bermain dengan
riang
Begitupun rumah
Ia Akan selalu tersenyum dalam kenang
Membuka pintu, jika kapan saja tuan datang
Untuk merajut dengan benang kenangan
Bercerita asal mula adanya pertemanan
Bukan lagu maupun syiir yang bertaut di
jendela
Bukan biola merdu yang bernaung di
ruang-ruang
Hanya ringkihan jangkrik sepi namun
mengiang
Kisah tamu yang datang dan hilang.
wiih....jeng ira sudah mau saingan, woke...tetap sama-sama semnagat ya
BalasHapus